Nganjuk — Desa Tritik, Kecamatan Rejoso, menyimpan potensi besar untuk berkembang sebagai desa wisata berbasis sejarah dan budaya. Namun, peluang itu terancam mandek akibat lemahnya kepemimpinan dan rendahnya partisipasi masyarakat yang hingga kini belum menunjukkan perubahan signifikan.
Dalam dua kali kegiatan pembinaan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang difasilitasi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, berbagai strategi teknis pengelolaan desa wisata telah dipaparkan secara matang. Mulai dari penataan kelembagaan, pengelolaan destinasi, hingga konsep wisata berkelanjutan. Sayangnya, materi tersebut dinilai belum mampu diterjemahkan menjadi gerakan nyata di tingkat desa.
Amin Fuadi dari Kotasejuk menegaskan bahwa Desa Tritik sebenarnya memiliki keunggulan yang tidak dimiliki wilayah lain, terutama keberadaan Museum Prasejarah Tritik yang nyaris rampung. “Museum ini bisa menjadi ikon wisata edukasi berskala regional. Masalahnya bukan pada potensi, tetapi pada kemauan dan keseriusan pengelola desa,” tegas Amin.
Kotasejuk menilai, kepemimpinan desa saat ini belum menunjukkan komitmen kuat terhadap pengembangan desa wisata. Pembangunan museum yang seharusnya menjadi prioritas justru berjalan lambat. Di sisi lain, kinerja administrasi pemerintahan desa juga disorot tajam. Tercatat, sebanyak sembilan laporan desa belum diselesaikan, mencerminkan lemahnya tata kelola pemerintahan.
Partisipasi masyarakat, khususnya generasi muda, juga dinilai sangat rendah. Minimnya keteladanan dari pimpinan desa disebut menjadi salah satu faktor utama warga bersikap apatis terhadap program desa wisata.
Padahal, dukungan dari luar terus mengalir. Selain pembinaan dari dinas, Adi Hasto dari Pengurus Pokdarwis Provinsi dan ASIDEWI Jawa Timur telah memberikan panduan teknis yang jelas terkait reorganisasi Pokdarwis dan strategi pengembangan destinasi. Namun tanpa tindak lanjut dari pemerintah desa, seluruh arahan tersebut berisiko hanya menjadi formalitas kegiatan.
“Kami melihat ada ketimpangan serius antara potensi dan realisasi. Jika desa terus berjalan dengan pola seperti ini, maka peluang Tritik menjadi desa wisata hanya akan menjadi wacana tahunan tanpa hasil nyata,” lanjut Amin dengan nada kritis.
Kotasejuk menegaskan, masa depan Desa Tritik tidak ditentukan oleh bantuan luar, melainkan oleh keberanian pemimpin desa untuk berbenah dan melibatkan masyarakat secara aktif. Tanpa perubahan pola kepemimpinan dan tata kelola, Desa Tritik berpotensi gagal memanfaatkan momentum besar yang kini sudah di depan mata.


