NEWS & ENTERTAINMENT MEDIA

Contact online

Website AG CYBER TV tidak bisa di akses tanpa Javascript
Silahkan Aktifkan Javascript di browser Anda !!Subscribe Us


Semua karya otentik dari AG Cyber TV di proteksi ,
tidak diperbolehkan mengambil sebagian atau keseluruhan isi berita asli karya kami tanpa izin redaksi.

MBG Nganjuk Disorot! Menu Diduga “Asal Kenyang”, Siswa Ogah Makan – Sisa Numpuk Setiap Hari

Nganjuk , - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Berbek, Kabupaten Nganjuk yang sejatinya digadang-gadang sebagai solusi peningkatan gizi anak sekolah, kini justru menuai sorotan tajam. Alih-alih disambut antusias, program ini disebut-sebut mulai ditinggalkan siswa akibat kualitas dan variasi menu yang dinilai jauh dari harapan.

Sejumlah tenaga pendidik mulai angkat bicara. Salah seorang guru di SD Negeri Bendungrejo mengungkapkan, minat siswa terhadap MBG terus merosot. Ia menyebut, perbaikan yang sempat dilakukan pasca temuan telur busuk hanya berlangsung sesaat, sebelum akhirnya kualitas menu kembali dipertanyakan.

“Dulu sempat ada kasus telur busuk, lalu diperbaiki dan anak-anak mulai suka. Tapi sekarang balik lagi, menunya itu-itu saja. Tahu, oseng-oseng, nasi. Kalau ada ayam pun cuma potongan kecil, paling sayap,” ujarnya, Senin (13/4/2026).

Kondisi ini berdampak nyata di lapangan. Setiap hari, sisa makanan siswa disebut bisa memenuhi setengah hingga satu kantong plastik besar—sebuah ironi dari program yang seharusnya meningkatkan asupan gizi.

“Petugas sampai kaget lihat sisa makanan masih utuh berserakan. Tapi memang tiap hari seperti itu, karena anak-anak tidak suka,” tambahnya.

Fakta ini bahkan telah didokumentasikan dalam bentuk foto dan video sebagai bahan evaluasi. Tak hanya di satu sekolah, keluhan serupa disebut terjadi di sejumlah sekolah lain di wilayah Berbek. Bahkan, muncul keinginan dari beberapa pihak untuk beralih ke penyedia makanan lain yang dinilai lebih layak.

Menanggapi polemik ini, Camat Berbek, Toni Susanto, mengaku baru mengetahui permasalahan tersebut dari pemberitaan media. Ia menyebut, selama ini tidak ada laporan yang masuk dalam grup koordinasi bersama tim SPPG.

“Saya juga kaget, karena di grup tidak ada laporan. Selama ini fokus kami memang di kelompok 3B (ibu balita, menyusui, dan balita non-PAUD). Untuk jenjang sekolah, koordinasinya langsung dengan Koramil,” jelasnya.

Meski demikian, Toni berjanji akan segera mengambil langkah cepat dengan melakukan klarifikasi kepada pihak SPPG Bendungrejo guna mengungkap kondisi sebenarnya di lapangan.

Sementara itu, upaya konfirmasi kepada Kepala SPPG Bendungrejo, Yudik Khoirul Huda, belum membuahkan hasil.

 Panggilan telepon dan pesan WhatsApp yang dikirimkan tidak mendapat respons, meski nada dering terpantau aktif.

Kasus ini menjadi alarm keras bagi pelaksanaan program MBG di Nganjuk. Ketika kualitas makanan dipertanyakan dan minat siswa menurun drastis, tujuan utama program—yakni mencetak generasi sehat dan kuat—justru terancam gagal total. (Tim)