Nganjuk – Museum Tritik yang dibangun menggunakan anggaran Dana Bantuan Khusus dan resmi dibuka pada 18 November 2025 kini ramai dikunjungi masyarakat. Namun di balik antusiasme publik, muncul sorotan tajam terhadap sikap Kepala Desa Tritik yang diduga menghilang dan tidak menunjukkan tanggung jawab lanjutan pasca-peresmian.
Museum yang digadang-gadang menjadi ikon budaya dan destinasi edukasi desa tersebut justru terkesan dibiarkan berjalan tanpa arah pengembangan yang jelas. Padahal, hampir setiap hari museum itu dipadati pengunjung yang penasaran dengan nilai sejarah dan keistimewaan Museum Tritik.
Seorang narasumber yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan kekecewaannya terhadap kepemimpinan kepala desa.
“Kami sangat kecewa. Setelah peresmian, kepala desa seperti lepas tangan. Tidak ada tindak lanjut, tidak ada rencana pengembangan. Bahkan terkesan menghilang,” ujarnya.
Ironisnya, pengembangan museum justru dilakukan secara swadaya oleh warga, dengan dukungan Komunitas KotaSejuk.
Mulai dari penataan lingkungan hingga upaya memperindah kawasan, semuanya dilakukan tanpa keterlibatan aktif pemerintah desa.
Padahal, di sekitar area museum ditemukan potensi besar yang bisa dikembangkan menjadi destinasi wisata tambahan, seperti kolam alami yang dinilai sangat estetik dan berpotensi menjadi daya tarik wisata air bagi pengunjung setelah menikmati museum.
“Potensinya luar biasa. Kalau dikelola dengan serius, Museum Tritik bisa menjadi paket wisata budaya dan rekreasi. Tapi ini tidak mungkin terwujud tanpa peran pemerintah desa,” tambah narasumber.
Upaya konfirmasi kepada Kepala Desa Tritik telah dilakukan oleh awak media.
Namun hingga berita ini diterbitkan, yang bersangkutan tidak memberikan respons sama sekali. Sikap diam tersebut semakin menimbulkan tanda tanya besar terkait komitmen dan tanggung jawab kepala desa terhadap aset desa yang dibangun menggunakan dana publik.
Situasi ini memunculkan kekhawatiran masyarakat, apakah Museum Tritik hanya dianggap proyek seremonial belaka tanpa visi jangka panjang. Publik pun berharap adanya evaluasi serius dari pihak terkait agar pengelolaan museum tidak sepenuhnya dibebankan kepada warga.
Jika benar museum ini dibangun dengan dana negara, maka sudah seharusnya pengelolaannya dilakukan secara transparan, berkelanjutan, dan bertanggung jawab, demi kepentingan masyarakat Desa Tritik secara luas.


