NEWS & ENTERTAINMENT MEDIA

Contact online

Website AG CYBER TV tidak bisa di akses tanpa Javascript
Silahkan Aktifkan Javascript di browser Anda !!Subscribe Us


Semua karya otentik dari AG Cyber TV di proteksi ,
tidak diperbolehkan mengambil sebagian atau keseluruhan isi berita asli karya kami tanpa izin redaksi.

Ompreng MBG Diduga Tercemar, Ditemukan Belatung dan Buah Busuk, Wali Murid Geram


Nganjuk – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi penopang asupan gizi bagi anak-anak sekolah justru menuai sorotan tajam. Dugaan kelalaian kembali terjadi di SPPG Mbendungrejo, Kecamatan Brebek, Kabupaten Nganjuk.

Pada Kamis (30/4/2026), wali murid dikejutkan dengan temuan makanan dalam ompreng yang didistribusikan kepada siswa. Dalam paket tersebut, ditemukan adanya belatung pada menu makanan, serta buah salak yang sudah dalam kondisi busuk dan tidak layak konsumsi.

Kejadian ini bukan yang pertama kali. Sejumlah pihak menyebutkan bahwa peringatan terkait kualitas dan kebersihan makanan sebelumnya sudah kerap disampaikan, namun diduga tidak ditindaklanjuti secara serius.

Kondisi tersebut memicu kemarahan wali murid. Mereka menilai program yang menjadi bagian dari kebijakan Presiden Republik Indonesia untuk meningkatkan gizi anak bangsa justru tercoreng oleh kelalaian di tingkat pelaksana.

“Ini program yang sangat baik untuk anak-anak agar mendapatkan asupan bergizi dan mendukung kecerdasan mereka. Tapi kenyataannya di lapangan jauh dari harapan. Banyak dapur yang terkesan asal-asalan dalam menyajikan makanan tanpa memperhatikan kualitas dan kebersihan,” ujar salah satu wali murid dengan nada kecewa.

Para orang tua mendesak adanya evaluasi menyeluruh terhadap pihak pengelola dapur MBG, khususnya di SPPG Mbendungrejo. Mereka juga meminta pengawasan lebih ketat dari instansi terkait agar kejadian serupa tidak terulang.
Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, pihak penanggung jawab MBG setempat belum berhasil dikonfirmasi untuk memberikan keterangan resmi.

Kasus ini menambah daftar perhatian serius terkait pelaksanaan program MBG di daerah, yang seharusnya menjadi solusi peningkatan gizi anak, bukan justru menimbulkan kekhawatiran baru di kalangan masyarakat.