NEWS & ENTERTAINMENT MEDIA

Contact online

Website AG CYBER TV tidak bisa di akses tanpa Javascript
Silahkan Aktifkan Javascript di browser Anda !!Subscribe Us


Semua karya otentik dari AG Cyber TV di proteksi ,
tidak diperbolehkan mengambil sebagian atau keseluruhan isi berita asli karya kami tanpa izin redaksi.

“MBG Berujung Petaka! Puluhan Siswa SDN Mojokendil Muntah Usai Santap Sayur Berlendir”


NGANJUK, – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi penyelamat asupan gizi siswa, justru berubah menjadi mimpi buruk di SDN Mojokendil, Selasa (7/4/2026). Puluhan siswa mendadak panik setelah menyantap makanan yang diduga tidak layak konsumsi—dengan kondisi sayur berlendir dan berbau tak sedap!

Kepanikan pecah saat sejumlah siswa mulai mengeluhkan gejala serius seperti mual, muntah, hingga lemas. Bahkan, satu siswa terpaksa dilarikan ke Puskesmas Mojokendil untuk mendapatkan penanganan medis darurat.

“Yang jelas ada satu anak tadi yang dibawa ke Puskesmas Mojokendil karena mengalami mual, muntah, dan lemas,” ungkap Hendri Dwi Prastya, Operator SDN Mojokendil.

Insiden bermula ketika paket MBG dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Cengkok, Kecamatan Ngronggot, didistribusikan ke ruang kelas. Namun, belum lama makanan dibagikan, pihak sekolah langsung dibuat curiga. Saat dilakukan pengecekan, ditemukan kondisi sayur yang sudah tidak segar—bahkan berlendir!

Tanpa menunggu lama, distribusi langsung dihentikan. Sayangnya, sebagian siswa—terutama kelas 5—terlanjur mengonsumsi makanan tersebut.
“Mengetahui hal itu distribusi segera dihentikan, sebagian siswa, khususnya kelas 5, terlanjur menyantap hidangan tersebut,” jelas Hendri.

Dampaknya langsung terasa. Selain satu siswa yang harus dilarikan ke fasilitas kesehatan, satu hingga dua siswa lainnya juga mengalami muntah-muntah di lingkungan sekolah. Suasana sempat mencekam, namun beruntung penanganan cepat membuat kondisi siswa berangsur membaik dan kini telah dipulangkan.
Peristiwa ini pun langsung menjadi sorotan tajam, khususnya terkait lemahnya pengawasan kualitas (quality control) makanan dalam program MBG. Pihak sekolah mendesak agar kejadian serupa tidak lagi terulang.

“Harapan kami SPPG lebih memperhatikan tentang kualitas makanan,” tegas Hendri.

Insiden ini menjadi tamparan keras bagi pelaksana program. Niat mulia memberikan gizi gratis bagi anak bangsa justru nyaris berubah menjadi ancaman kesehatan. Jika tidak segera dibenahi, bukan tidak mungkin kepercayaan publik terhadap program MBG akan runtuh.

Sekolah pun berharap evaluasi menyeluruh segera dilakukan. Jangan sampai program yang seharusnya menyehatkan, malah menjadi bumerang yang membahayakan generasi penerus bangsa.