NEWS & ENTERTAINMENT MEDIA

Contact online

Website AG CYBER TV tidak bisa di akses tanpa Javascript
Silahkan Aktifkan Javascript di browser Anda !!Subscribe Us


Semua karya otentik dari AG Cyber TV di proteksi ,
tidak diperbolehkan mengambil sebagian atau keseluruhan isi berita asli karya kami tanpa izin redaksi.

Gegara Tak Diundang, Oknum Wartawan Ngamuk: “Kejaksaan Gak Adil!” — Bukber Rutin Justru Jadi Ajang Nyinyir


Nganjuk – Suasana kebersamaan dalam acara buka bersama yang digelar oleh Kejaksaan Negeri Nganjuk pada Senin (9/3/2026) justru diwarnai polemik. Pasalnya, seorang oknum wartawan diduga melontarkan umpatan dan tudingan miring hanya karena dirinya tidak masuk dalam daftar undangan acara tersebut.

Polemik ini mencuat setelah media online Pelopor.co.id menyoroti kegiatan buka bersama tersebut. Namun di balik pemberitaan itu, beredar kabar bahwa kemarahan oknum wartawan dipicu karena dirinya tidak menerima undangan dari pihak kejaksaan.

Padahal, kegiatan buka bersama yang digelar Kejaksaan Negeri Nganjuk bukanlah hal baru. Agenda ini merupakan kegiatan rutin tahunan yang selama ini dilaksanakan sebagai bentuk silaturahmi sekaligus apresiasi kepada awak media yang selama ini bersinergi dalam penyampaian informasi kepada masyarakat.

Undangan acara pun diketahui disebarkan secara terbatas melalui pesan WhatsApp kepada sejumlah wartawan. Bahkan dalam pesan undangan tersebut secara jelas tercantum keterangan agar undangan tidak disebarluaskan.

Artinya, kegiatan tersebut memang bersifat terbatas dan bukan acara terbuka untuk umum.

Namun alih-alih memahami mekanisme undangan tersebut, oknum wartawan justru diduga melontarkan komentar bernada sinis hingga mengumpat dengan menyebut “Kejaksaan gak adil”.

Sikap tersebut tentu menuai sorotan dari sejumlah kalangan. Pasalnya, jika memang tidak mendapatkan undangan, semestinya disikapi secara dewasa dan profesional, bukan justru datang tanpa undangan lalu melontarkan umpatan.

“Kalau memang tidak diundang ya wajar saja, karena undangannya memang terbatas. Tidak ada penolakan, hanya soal daftar undangan. Tapi kalau tidak diundang lalu datang dan malah mengumpat, itu yang justru memalukan,” ujar  Sutomo salah satu sumber yang mengetahui kegiatan tersebut.

Peristiwa ini pun memunculkan pertanyaan di kalangan wartawan sendiri mengenai etika dan profesionalisme dalam menjalankan profesi jurnalistik.
Sebab sejatinya, hubungan antara media dan institusi pemerintah dibangun atas dasar sinergi dan saling menghormati, bukan atas dasar tuntutan untuk selalu diundang dalam setiap kegiatan.

Jika setiap acara harus menghadirkan semua pihak tanpa batas, tentu akan sulit bagi penyelenggara untuk mengatur kegiatan secara efektif.

Di tengah upaya membangun hubungan baik antara media dan institusi, sikap emosional dan penuh umpatan seperti ini justru dinilai dapat mencoreng citra profesi wartawan itu sendiri.