NEWS & ENTERTAINMENT MEDIA

Contact online

Website AG CYBER TV tidak bisa di akses tanpa Javascript
Silahkan Aktifkan Javascript di browser Anda !!Subscribe Us


Semua karya otentik dari AG Cyber TV di proteksi ,
tidak diperbolehkan mengambil sebagian atau keseluruhan isi berita asli karya kami tanpa izin redaksi.

Fenomena Pelepasan dan Kenang-Kenangan Sekolah, Antara Kesederhanaan dan Beban Orang Tua


NGANJUK – Momen pelepasan dan perpisahan siswa kelas IX menjadi tradisi yang selalu dinantikan menjelang berakhirnya tahun pelajaran. 

Di berbagai daerah, kegiatan tersebut menjadi ajang perpisahan sekaligus kenangan terakhir sebelum para siswa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Namun, pelaksanaan kegiatan pelepasan tahun ini kembali menjadi sorotan publik. Pasalnya, Pemerintah Kabupaten Nganjuk sebelumnya telah menerbitkan Surat Edaran yang mengatur agar kegiatan pelepasan siswa dilaksanakan secara sederhana, kreatif, dan tidak memberatkan wali murid.

Dalam surat edaran tersebut, sekolah diberikan ruang untuk menggelar kegiatan pelepasan dengan konsep yang sederhana dan inovatif tanpa menimbulkan kesan bermewah-mewahan.

 Kebijakan itu bertujuan menjaga semangat kebersamaan sekaligus menghindari munculnya beban ekonomi bagi orang tua siswa.

Di lapangan, pelaksanaan kegiatan pelepasan di sejumlah sekolah masih menjadi perbincangan masyarakat. 

Sebagian kegiatan dinilai berlangsung meriah dengan berbagai konsep yang membutuhkan dukungan pembiayaan dari wali murid.

Di sisi lain, terdapat sekolah yang memilih konsep berbeda. Salah satu SMP Negeri di wilayah Kecamatan Tanjunganom, misalnya, disebut mengarahkan bentuk kenang-kenangan siswa berupa kontribusi untuk perbaikan fasilitas sekolah, yakni lapangan basket. 

Berdasarkan informasi yang beredar, kontribusi tersebut sebesar Rp150.000 per siswa.
Kebijakan tersebut memunculkan beragam tanggapan dari kalangan orang tua. (31/5/2026)

 Sebagian menilai langkah itu sebagai bentuk partisipasi untuk meninggalkan jejak positif bagi sekolah. Namun, tidak sedikit pula yang mengaku keberatan karena harus mempersiapkan biaya pendidikan anak ke jenjang berikutnya.

“Setelah lulus masih banyak kebutuhan yang harus dipersiapkan untuk masuk sekolah baru. Karena itu sebagian orang tua berharap kegiatan pelepasan maupun kenang-kenangan benar-benar mempertimbangkan kondisi ekonomi masing-masing keluarga,” ungkap salah satu wali murid yang enggan disebutkan namanya.

Perbedaan pola pelaksanaan pelepasan dan pemberian kenang-kenangan di sejumlah sekolah menunjukkan bahwa isu tersebut masih menjadi perhatian masyarakat. Transparansi, musyawarah, serta keterbukaan informasi dinilai menjadi kunci agar setiap kebijakan yang diambil dapat dipahami seluruh pihak.

Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai mekanisme dan dasar pelaksanaan program kenang-kenangan tersebut. 

Masyarakat pun berharap adanya penjelasan yang dapat memberikan gambaran utuh sehingga tidak menimbulkan berbagai persepsi di tengah publik.

Terlepas dari berbagai dinamika yang muncul, semangat utama pelepasan siswa sejatinya tetap sama, yakni menjadi momen penghormatan atas perjuangan belajar para siswa serta langkah awal menuju masa depan yang lebih baik.
 (B)