Nganjuk — Jerit sunyi kemiskinan dan keterlantaran akibat putus sekolah kembali menggema.
Dari Pendopo Nganjuk, angin perubahan ditiupkan langsung oleh Saifullah Yusuf. Kementerian Sosial RI menggelar sosialisasi Sekolah Rakyat, sebuah terobosan berani yang menyasar akar masalah: anak-anak dari keluarga miskin yang terhalang masa depan karena pendidikan terputus.
Langkah ini merupakan tindak lanjut tegas atas komitmen Prabowo Subianto yang menempatkan penguatan ekonomi rakyat sebagai prioritas nasional—mulai dari koperasi, perumahan, perikanan, pertanian, hingga pendidikan sebagai fondasi utama.
Dalam sambutannya yang penuh determinasi, Marhaen Djumadi menegaskan kesiapan Pemerintah Kabupaten Nganjuk mengawal kebijakan ini secara serius.
“Pemutakhiran data dilakukan ketat melalui ground check bersama pendamping dan Dinas Sosial, lalu diverifikasi rutin setiap tiga bulan agar bantuan tepat sasaran,” tegasnya di hadapan para pemangku kepentingan, Kamis (27/2/2026).
Sementara itu, Saifullah Yusuf—yang akrab disapa Gus Ipul—menggarisbawahi persoalan krusial yang selama ini luput dari perhatian: anak-anak yang telah lulus sekolah namun tak mampu mengambil ijazah karena himpitan ekonomi.
“Ini mandat langsung Presiden. Negara harus hadir secara khusus untuk mereka,” tandasnya lantang.
Menambah daya dorong moral, Gus Ipul mengaitkan momentum kebijakan dengan spirit Ramadhan.
“Bulan Ramadhan adalah bulan penguatan iman sekaligus bulan kepedulian nasional,” ujarnya, menyerukan solidaritas lintas sektor agar perlindungan, jaminan, dan rehabilitasi sosial benar-benar menyentuh yang paling membutuhkan.
Sosialisasi Sekolah Rakyat di Nganjuk bukan sekadar seremoni. Ini adalah sinyal keras bahwa negara tak lagi menunggu—melainkan bergerak cepat memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan.
Dari Kabupaten Nganjuk, harapan itu dinyalakan kembali: tak ada lagi anak Indonesia yang kehilangan masa depan hanya karena kemiskinan


