NGANJUK, agcyber.news - Tingginya biaya bahan bakar membuat petani di Desa Mabung, Kecamatan Baron, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, memilih memodifikasi mesin pompa air untuk pengairan sawah dari BBM jenis Pertalite ke LPG 3 kilogram. Petani menyebut penggunaan LPG mampu menekan biaya operasional pengairan.
Modifikasi dilakukan dengan memasang konverter kit pada mesin diesel. Perangkat tersebut memungkinkan mesin pompa yang sebelumnya menggunakan BBM dioperasikan menggunakan LPG.
Bagi petani, biaya bahan bakar menjadi salah satu pengeluaran yang cukup besar dalam proses budidaya tanaman. Mesin pompa harus beroperasi untuk memenuhi kebutuhan air di lahan, terutama ketika ketersediaan air tidak mencukupi.
Penggunaan bahan bakar alternatif menjadi salah satu cara petani menekan beban biaya produksi. Penghematan dari sektor pengairan diharapkan dapat mengurangi total ongkos budidaya hingga masa panen.
Selain bahan bakar, kebutuhan pupuk juga menjadi komponen biaya yang harus diperhitungkan petani.
Salah seorang petani Desa Mabung, Misiran, mengatakan pupuk Urea bersubsidi diperoleh melalui kelompok tani dengan harga Rp110.000 per karung.
“Untuk pupuk Urea bersubsidi, kami membeli di kelompok tani dengan harga Rp110.000 per karung,” ujar Misiran saat ditemui di sela aktivitas di area persawahan, Selasa (11/8/2026).
Menurut Misiran, efisiensi biaya menjadi penting karena petani harus menanggung berbagai kebutuhan selama proses produksi. Penggunaan mesin pompa yang lebih hemat menjadi salah satu upaya untuk mengurangi pengeluaran, khususnya biaya pengairan sawah.
Meski demikian, penggunaan LPG 3 kilogram pada mesin pertanian hasil modifikasi tetap perlu memperhatikan ketentuan mengenai peruntukan LPG bersubsidi.
Petani berharap tersedia pilihan energi yang terjangkau dan sesuai aturan untuk mendukung kegiatan pertanian, sehingga biaya produksi dapat ditekan tanpa mengurangi kebutuhan pengairan tanaman. (red)

