Nganjuk – Upaya memperkuat budaya literasi berbasis kearifan lokal terus digalakkan melalui pengenalan kembali pengetahuan tradisional Nusantara.
Salah satunya melalui kajian dan pengembangan Pranata Mangsa, sebuah sistem penanggalan tradisional masyarakat Jawa yang sejak dahulu digunakan sebagai pedoman membaca perubahan musim dan aktivitas pertanian.
Gunawan Widagdo Selaku Kepala Dinas Pariwisata menjelaskan bahwa melalui kegiatan bertajuk “Pranata Mangsa” yang berlangsung pada 22 Juni 1956 – 21 Juni 2026, masyarakat diajak memahami kembali hubungan antara ilmu pengetahuan tradisional, budaya, serta kehidupan manusia dengan alam.
Pranata Mangsa menjadi bukti bahwa masyarakat Nusantara telah memiliki pengetahuan tentang siklus alam yang diwariskan secara turun-temurun.
Sistem ini memuat pembagian waktu berdasarkan tanda-tanda alam, seperti perubahan cuaca, musim, hingga pola pertanian.
Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya menumbuhkan budaya literasi, khususnya literasi budaya dan lingkungan, agar generasi muda tidak hanya mengenal teknologi modern, tetapi juga memahami kekayaan pengetahuan lokal yang memiliki nilai sejarah dan ilmiah.
Dengan mengangkat kembali Pranata Mangsa, diharapkan warisan budaya Nusantara semakin dikenal luas serta menjadi inspirasi dalam menghadapi perubahan zaman tanpa meninggalkan akar tradisi.
“Membaca alam, memahami budaya, dan merawat pengetahuan leluhur menjadi langkah penting menjaga identitas bangsa,” menjadi pesan utama dalam kegiatan tersebut.


