Nganjuk, – Puncak peringatan Hari Jadi Kabupaten Nganjuk ke-1089 tahun kembali ditandai dengan prosesi sakral Manusuk Sima, sebuah tradisi yang sarat makna historis dan budaya. Ritual ini menjadi simbol lahirnya Nganjuk yang dikenal sebagai “Bumi Anjuk Ladang.”
Pada tahun ini, prosesi Manusuk Sima digelar oleh Pemerintah Kabupaten Nganjuk di kawasan Candi Lor, Kecamatan Loceret, Kamis (10/4/2026), usai pelaksanaan upacara di Alun-alun Nganjuk.
Bupati Nganjuk, Marhaen Djumadi, menegaskan bahwa prosesi ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan momentum untuk memperkuat kecintaan masyarakat terhadap budaya lokal.
“Orang Nganjuk sejak dulu kebersamaannya luar biasa. Maka harus bersama-sama membangun Nganjuk agar bisa melesat,” ujar Kang Marhaen.
“Ibarat lidi, kalau sendiri-sendiri tidak kuat. Tapi jika disatukan menjadi sapu, akan lebih kuat dan cepat. Itulah semangat gotong royong yang harus kita jaga,” imbuhnya.
Makna Filosofis Manusuk Sima
Menurut Sukadi, pemerhati sejarah Nganjuk sekaligus Humas Komunitas Pecinta Sejarah dan Ekologi Nganjuk (Kotasejuk), istilah Manusuk Sima berasal dari dua kata:
Manusuk: upacara atau prosesi
Sima: tanah perdikan (wilayah yang dibebaskan dari pajak).
Dengan demikian, Manusuk Sima merupakan ritual penetapan tanah sima—sebuah anugerah dari raja kepada wilayah tertentu sebagai bentuk penghargaan.
Tradisi ini merujuk pada catatan sejarah dalam Prasasti Anjuk Ladang, yang mengisahkan peristiwa penting di masa Kerajaan Mataram Medang.
Jejak Sejarah yang Melatarbelakangi
Dalam kisah tersebut, pasukan Mataram Medang di bawah kepemimpinan Mpu Sindok terlibat peperangan dengan Kerajaan Sriwijaya. Dalam pertempuran itu, Mpu Sindok mendapat bantuan dari tokoh lokal, Mpu Anjuk Ladang, hingga akhirnya meraih kemenangan.
Sebagai bentuk penghargaan, Mpu Sindok kemudian memberikan anugerah tanah sima kepada wilayah tersebut—meski baru direalisasikan sekitar delapan tahun setelah kemenangan.
Tak hanya itu, sang raja juga memerintahkan pembangunan tempat suci bernama Sang Hyang Prasada Kabaktian I Sri Jayamerta, yang kini dikenal sebagai Candi Lor di Kecamatan Loceret.
Peristiwa inilah yang kemudian melahirkan tradisi Manusuk Sima yang terus dilestarikan hingga kini.
Dalam pelaksanaannya, Manusuk Sima memiliki beberapa tahapan penting yang tidak boleh dilewatkan, antara lain:
Pemberian pasak (uang saku) sebagai simbol penetapan.
Banting hantelu (membanting telur) sebagai lambang tekad dan awal kehidupan.
Nigas guling hayam (penyembelihan ayam) sebagai bentuk pengorbanan
Awur-awur awu (menyebar abu) yang bermakna keteguhan atas ucapan dan keputusan.
Makna dari awur-awur awu sendiri sangat filosofis, yakni bahwa setiap sabda atau keputusan yang telah diucapkan bersifat sakral dan tidak dapat ditarik kembali.
Harapan untuk Generasi Mendatang
Sukadi berharap agar tradisi Manusuk Sima tetap dijaga sebagai identitas budaya khas Nganjuk. Ia juga mengajak generasi muda untuk tidak melupakan akar sejarahnya.
“Ini bukan hanya warisan, tapi jati diri. Generasi muda harus bangga dan ikut melestarikan,” pungkasnya.
Dengan nilai sejarah, filosofi, dan semangat gotong royong yang terkandung di dalamnya, Manusuk Sima bukan sekadar ritual, melainkan cerminan identitas dan kekuatan budaya masyarakat Nganjuk yang terus hidup dari masa ke masa.


