Nganjuk – Pembongkaran patung lama Marsinah di tepi Jalan Raya Nglundo, Kecamatan Sukomoro, memicu gelombang kritik dan sorotan tajam dari masyarakat. Patung yang berdiri sejak sekitar 2015 itu kini tak lagi tegak, melainkan sempat tergeletak tanpa kejelasan nasib—memantik kemarahan publik, khususnya kalangan buruh.
Pembongkaran dilakukan seiring pembangunan monumen baru yang diklaim lebih megah dan representatif, menyusul penetapan Marsinah sebagai pahlawan nasional dari kalangan buruh. Monumen anyar tersebut akan dilengkapi patung berbahan perunggu dan kawasan rest area, bahkan direncanakan diresmikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto pada peringatan Hari Buruh Internasional, 1 Mei 2026.
Namun di balik ambisi pembangunan megah itu, muncul ironi yang menyakitkan. Patung lama yang sarat nilai sejarah justru diperlakukan tak layak. Sempat terlihat teronggok di samping bangunan Koperasi Desa Merah Putih, kondisinya memicu keprihatinan luas.
Ketua DPC KSBSI Nganjuk, Kelik Widi Wahyuono, angkat bicara dengan nada kecewa. Ia menegaskan bahwa patung tersebut bukan sekadar benda mati, melainkan simbol perjuangan buruh yang dibangun dari keringat dan solidaritas.
“Ini bukan patung biasa. Ini hasil gotong royong buruh, dana sekitar Rp50 juta terkumpul secara sukarela. Ada nilai sejarah dan emosional yang tidak bisa diabaikan,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa sebagai sosok pahlawan nasional, penghormatan terhadap Marsinah harus dijaga, termasuk dalam memperlakukan simbol-simbol perjuangannya.
“Kalau diperlakukan seperti ini, tentu melukai perasaan buruh. Ini tanggung jawab bersama,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Desa Nglundo, Ansori, menjelaskan bahwa pembongkaran merupakan bagian dari proses pembangunan monumen baru. Ia mengakui adanya kendala teknis dalam pemindahan patung lama.
“Bobot patung sangat berat, harus pakai crane dari pemadam kebakaran. Tapi aksesnya terbatas, jadi tidak bisa langsung dipindah ke tempat penyimpanan,” jelasnya.
Akibatnya, patung sempat diletakkan di lokasi terdekat sebelum akhirnya diamankan di Gedung Olahraga (GOR) desa setempat.
Kini, nasib patung lama masih menggantung. Beberapa opsi lokasi penempatan disebut tengah dipertimbangkan, mulai dari area makam hingga lapangan desa yang akan dibangun ulang menjadi monumen sederhana.
Meski begitu, publik menilai pemerintah desa dan pihak terkait harus segera mengambil langkah tegas.
Jangan sampai simbol perjuangan buruh hanya menjadi “korban pembangunan” tanpa penghormatan yang layak.
Sorotan pun kian tajam: di tengah gegap gempita pembangunan monumen baru, apakah nilai sejarah lama justru dibiarkan terlupakan? sr


